Jumat, 22 Mei 2020

Kejujuran dan Kepercayaan Saat Pandemi COVID-19


Oleh : immi. Nanda Garintralia K.



Beberapa waktu yang lalu, sempat popular isu tidak terbukanya pemerintah dalam mengungkap data pasien COVID-19. Akhirnya pemerintah mulai mengungkap data jumlah PDP dan ODP di situs resminya sejak 14 April 2020. Meski begitu, bagi masyarakat khususnya peneliti, hal tersebut masih kurang mengingat pemerintah tidak membuka data terkait jumlah PDP dan ODP yang meninggal. Padahal dalam pedoman terbaru yang ditetapkan oleh WHO, data kematian tekait COVID-19 mencakup pasien yang secara klinis memiliki gejala COVID-19 (PDP dan ODP) serta pasien terkonfirmasi positif COVID-19. Transparansi data perlu dilakukan karena menunjukkan skala pandemi sehingga dapat memprediksi waktu yang tepat untuk melakukan relaksasi. Data yang tidak transparan dapat menjadi salah satu faktor kepercayaan (trust) masyarakat terhadap pemerintah jadi menurun.

Gambar 1 Definisi Kematian Akibat COVID-19 (Sumber : WHO, 2020)
Pada lingkungan sosial, isu terkait penyaluran bantuan pemerintah di era pandemi yang
tidak tepat sasaran juga menjadi salah satu faktor kepercayaan dalam area komunal menurun.
Data tentang warga yang berhak mendapat bantuan antara pemerintah tingkat desa dengan data
pemerintah provinsi bisa jadi berbeda. Masyarakat bisa saling mencurigai akibat tidak meratanya
bantuan yang diterima.

Di sisi lain, kita juga kerap membaca berita tentang pasien positif COVID-19 yang tidak jujur
sehingga warga maupun tenaga medis yang kontak dengannya harus menjalani isolasi mandiri. Hal tersebut membuktikan bahwa kepercayaan dan kejujuran menjadi salah satu hal yang penting untuk bisa membangun relasi yang baik antar individu maupun kelompok. Kekuatan relasi, bergantung seberapa besar kepercayaan individu terhadap individu lain maupun dalam suatu komunitas. Rasa saling percaya dapat membangun komunikasi yang baik untuk bekerjasama dalam penanganan pandemi COVID-19. Hal tersebut dapat dimulai dari diri kita sendiri dengan berlaku jujur mengenai keluhan dan status kesehatan kita saat dilakukan pemeriksaan.

Pada tingkat komunal sendiri, dalam kasus bansos, harus terjadi transparansi data agar data
penerima bantuan yang dikirimkan ke pemerintah sesuai dengan kenyataan di lapangan. Edukasi
kepada masyarakat harus terus dilakukan agar tidak ada lagi berita pasien yang tidak mengaku
bahwa ia positif COVID-19. Selain itu, masyarakat harus taat peraturan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan saat pandemi, mengingat banyak beredar berita tentang pelanggaran PSBB.
Pada lingkup pemerintah, khususnya pemerintah pusat, keterbukaan data menjadi asupan dasar
yang digunakan oleh pakar epidemiologi untuk memprediksi kapan puncak pandemi terjadi dan
kapan waktu yang tepat untuk melakukan pelonggaran. Relaksasi atau pelonggaran tidak dapat
dilakukan bila rasio testing per seribu penduduk masih rendah. Peningkatan kapasitas testing perlu dilakukan untuk mengatasi hal tersebut.

Indonesia juga perlu segera memiliki kurva epidemi agar bisa menentukan kebijakan lanjutan yang tepat untuk mengatasi pandemi. Pembuatan kurva epidemi menjadi sulit untuk dilakukan bila jarak waktu antara tes swab PCR dengan pengumuman hasil tes terlampau lama, sehingga masih perlu banyak perbaikan. Karena kunci dalam menanggulangi pandemi ini ada tiga yaitu test (Diagnosa), track (Penelusuran kontak pasien positif), dan treat (Pengobatan).


Rakyat dan pemerintah harus saling membangun komunikasi yang baik agar terjadi rasa saling
percaya dan tidak saling menyalahkan. Pendekatan kultural dapat dilakukan untuk meningkatkan
kepercayaan antar kedua belah pihak. Kebijakan pemerintah yang diterapkan tidak boleh saling
tumpang tindih antar sektor yang satu dengan sektor lainnya. Kebijakan terkait kesehatan
utamanya tentang penanganan pandemi COVID-19 harus lebih diprioritaskan daripada sektor
lainnya. Hal tersebut sejalan dengan pepatah yang dikemukakan oleh salah seorang filsuf Jerman, Schopenhauer, "Health is not everything, but without health, everything is nothing". Penanganan pandemi yang tepat dan cepat dapat memulihkan sektor lainnya dengan lebih cepat pula, khususnya sektor ekonomi.
Masyarakat harus dapat memilah informasi yang benar terkait COVID-19 agar tidak termakan hoax. Informasi mengenai COVID-19 harus disampaikan oleh orang-orang kompeten sesuai bidang keilmuan yang ditempuh. Jangan sampai terjadi kesalahpahaman akibat misinformasi yang diberikan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Wallahua'lam bi showab. Tetap patuhi protokol kesehatan, karena sudah teralu banyak nyawa yang menjadi korban akibat COVID-19. Semoga pandemi COVID-19 segera berakhir sehingga rakyat Indonesia dapat beraktivitas dengan normal kembali.


Read more

Selasa, 28 April 2020

SETITIK MERAHKU




Orang bilang, setitik merah telah mati
Mati karena ulah tangan sendiri
Setitik merah dalam lingkaran api
Yang kini tak kunjung kujumpai
Semua ini semakin sunyi
Hilang tak berarti
Apa mungkin setitik merah telah pergi?
Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?
Lantas ku berdiri
Dan secepat mungkin mencari
Dalam hati kuberjanji
Tuk menjaga setitik merah abadi
Dan aku meyakini
Lambat laun semua akan pulih kembali
Dengan usaha yang tak akan kupungkiri

Tak lama kusadari
Setitik merah itu mulai berseri
Bagai eloknya matahari pagi
Yang terus menyinari
Air mata tak dapat terhenti
Memandang keajaiban itu terjadi
Setitik merah yang mulai kembali
Menyala nyala dalam lingkaran api
Menjadi nyawa api yang berkualitas tinggi
Yang menjadikannya abadi
Abadi dalam hati ini
Setitik merah penyemangat diri

Karya : Immi. Putri Ayu Andina
Read more

MANTAPKAN JALANNYA ORGANISASI, BIDANG ORGANISASI ADAKAN KAJIAN AD/ART IMM



Pada hari Sabtu (14/03), bidang organisasi Pimipinan Komisariat Revivalis dan Resurgence mengadakan kajian keorganisasian tentang AD/ART Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Kegiatan ini dilaksanakan pada pukul 19.00 WIB berlokasi di lantai 2 Gedung B. Materi disampaikan oleh Sekretaris Bidang Organisasi PC IMM Malang Raya, Immawan Husni Thamrin, dan dipandu oleh Ketua Bidang Organisasi Komisariat Resurgence, Immawan Azmi. Kegiatan ini diadakan dengan maksud memberikan bekal kepada Pimpinan Komisariat Revivalis dan Resurgence dalam menjalankan roda kepemimpinan agar sesuai dengan kaidah dan aturan yang tertulis dalam AD/ART IMM.

Kegiatan ini terdiri dari beberapa rangkaian acara, yaitu pembukaan, penyampaian materi, dan tanya jawab. Acara ini dibuka sedikit terlambat dari jadwal awal yaki 20.30 WIB lantaran padatnya jadwal Pimpinan Komisariat sehingga harus menunggu terlebih dahulu. Acara dibuka oleh Kabid Organisasi Resurgence, Immawan Azmi. Setelah dibuka, pemateri, Immawan Husni Thamrin langsung menyampaikan materi terkait dengan AD/ART. Materi yang diberikan terlebih dahulu adalah mengenai alasan penamaan aturan keorganisasian dengan nama AD/ART, alih alih undang-undang, aturan, Qanun, dan lain sebagainya. Pemateri menyebutkan bahwa penamaan tersebut hanyalah penamaan belaka dan tidak ada maksud dibalik itu, akan tetapi dalam rangka mengenang sejarah pendirian nama IMM, nomenklatur AD/ART tetap dipertahankan. Setelah itu, materi dilanjutkan dengan metode penyampaian per aturan dalam Anggaran Dasar terlebih dahulu. Ketika beberapa aturan mulai dijelaskan oleh pemateri, banyak dari pImpinan kedua komisariat mengetahui bahwa aturan dalam AD/ART belum banyak diimplementasikan dalam roda organisasi. Setelah materi diselesaikan, pemateri menutup kajian AD/ART dengan menyampaikan bahwa penting sekali memahami AD/ART karena ini menjadi landasan dalam menjalankan roda oranisasi dan perkaderan.
Kegiatan Kajian AD/ART berakhir pada pukil 21.30 WIB. Rencananya kajian ini akan menjadi rutinitas karena penyampaian AD/ART tidak bisa dilaksanakan dalam satu kajian, melainkan harus terpisah dalam beberapa edisi agar pemahaman pimpinan mengenai AD/ART semakin matang. Acara diakhiri dengan foto bersama.

Oleh : Immawan Dzulfikri Aulia Akbar

Read more

Jumat, 20 Maret 2020

Di Pergantian Siang dan Malam


Karya : Adhelya Restu Iryani

Image: freepik

"Di pergantian siang dan malam
Ada tanda-tanda kebesaranNya
Bagi mereka yang yang berakal."

Di pergantian siang dan malam
Aku tertatih mengeja..
Huruf demi huruf..
Kata demi kata..
Perlahan kucoba membaca..
Pesan-pesan cinta dariNya..

Di pergantian siang dan malam..
Hampir saja ku menyerah..
Karna tak satupun dapat ku pahami..
Dari sekian pesan keindahan..
Mengapa tak jua ku temui arti..
Mengapa justru beban dan kesedihan yang kurasakan..

Di pergantian siang dan malam..
Kucoba bermuhasabah diri..
Mungkin saja ilmuku masih begitu dangkal untuk mengerti..
Makna tersirat dari segala yang tersurat..
Mungkin saja sujudku terlalu singkat tuk percepat doa-doa yang terpanjat..
Mungkin saja amalanku begitu sedikit..
Sedangkan dosaku berbukit-bukit..
Bahkan mungkin syukurku hanya sebatas mata kaki..
Sedangkan keluhku tiada henti...

Di pergantian siang dan malam...
Keyakinan itu datang...
Pada akhirnya semua usaha akan menemui hasil..
Semua ikhtiar akan terbayar..
Semua yang tersirat akan terbaca jelas..
Hingga syukur tak lagi luntur..

Lamongan, 6 Januari 2020






Biodata Penulis
Nama : Adhelya Restu Iryani
Alamat : jl.pramuka dsn. Penanjan - 
desa Paciran - kec. paciran - kab. Lamongan
Email : adheliryani@gmail.com
No WhatsApp : 08819730245
Instagram : @adhel_iryani

Read more

Kamis, 19 Maret 2020

Tanya Samudera


Karya : Adhelya Restu Iryani
image: Pixabay

Aku terdiam menikmati hembusan angin di tepi pantai..
Aku menatap jauh ke lautan lepas...
Melarungkan segala beban yang berkecamuk di dada...
Dalam diam aku bercerita..
Perihal jalan terjal yang kulalui...
Yang membenturku berkali kali..
Mencipta luka baru di antara luka lama yang belum sepenuhnya pulih...
Aku bercerita tentang dunianya yang begitu indah berpendar..
Sedangkan duniaku semakin meredup seolah tak lagi bersinar...
Aku bercerita perkara mimpi yang sempat terhenti...
Dan langkahku yang kian tak pasti..

Dan darinya kudapati tanya...

Lantas..
Apakah syukurmu akan luntur setelah sekian kali terbentur?
Ataukah semangatmu akan memudar?
Setelah melihat ada dunia yang lebih indah berpendar..
Apakah langkahmu akan terhenti?
Setelah sejauh ini mencoba menapakkkan kaki..
Ataukah mimpimu akan terkubur?
Setelah perlahan melangkah mundur...

Aku terdiam, berpikir keras terkait jawaban yang pantas....

Lamongan,7 Januari 2020


Biodata Penulis
Nama : Adhelya Restu Iryani
Alamat : jl.pramuka dsn. Penanjan - desa Paciran - kec. paciran - kab. Lamongan
Email : adheliryani@gmail.com
No WhatsApp : 08819730245
Instagram : @adhel_iryani

Read more

Senin, 09 Maret 2020

Diskusi Hikmah : Pemilwa 2020

"Pemilwa, aku kudu lapo?"
Sebuah Upaya Pengenalan Kehidupan Politik Kampus




“Pada dasarnya kita hidup itu tidak akan terlepas dari masalah perpolitikan.”
-Imm. M. Setyo Dharmawan-
Read more

Minggu, 08 Maret 2020

Biologi: Hereditas dalam Islam


image: Pixabay

Abstrack
Genetika merupakan Ilmu yang mempelajari tentang pewarisan sifat pada organisme. Secara kasar juga dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang gen dan segala aspeknya. Ilmu-ilmu Genetika sebenarnya telah banyak disinggung dalam ayat-ayat Qur’an dan Hadits sejak 14 abad yang lalu, khususnya dalam hal pewarisan sifat (Hereditas).

Qur’an Hadits, dan Genetika

Al-Qur’an dan Hadits merupakan dua pedoman utama dalam agama islam. Dua pedoman tersebut memiliki otoritas yang signifikan dalam memenuhi kebutuhan keilmuan dari zaman nabi Muhammad hingga pada zaman kontemporer ini. Al-Qur’an dan hadits tidak hanya berisi tentang hal religiusitas, melainkan juga megandung segala aspek seperti sumber keteladanan, sejarah, dan ilmu pengethuan/sains.

Al-Qur’an dan Hadits memang dianggap pantas untuk dijadikan khaazanah/sumber keilmuan. Hal ini karena dari zaman ke zaman Al-qur’an dan Hadits selalu relevan dengan Ilmu pengetahuan dan teknologi yang selalu berkembang dengan pesat. Perkembangan ini membawa berbagai dampak bagi kehidupan manusia. Maka dari itu, Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin, sangat memperhatikan pentingnya Integrasi antara islam dan ilmu pengetahuan agar tidak terjadi kekacauan dan penyelewengan.

Genetika merupakan salah satu cabang dari ilmu Biologi. Kata “Genetika” merupakan serapan dari bahasa Belanda: genetica, adaptasi dari bahasa Inggris: genetics, dan dibentuk dari kata bahasa Yunani: γέννω, genno yang berarti "melahirkan". Genetika mempelajari tentang pewarisan sifat pada organisme maupun suborganisme (seperti virus dan prion). Secara kasar juga dapat didefinisikan sebagai ilmu tentang gen dan segala aspeknya.
Ilmu-ilmu Genetika sebenarnya telah banyak disinggung dalam al-qur’an sejak 14 abad yang lalu. Seperti halnya dalam ayat ke-2 surat Al-Insaan yang artinya:

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al Insaan: 2)

Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa kata setetes air mani yang bercampur merupakan campuran antara sel sperma dan ovum. Dan dari ayat tersebut pula dapat diketahui bahwa terdapat ayat-ayat dalam al-qur’an dan hadits yang perlu diulas dan dapat diintegrasikan dengan ilmu genetika. Terutama dengan pokok pembahasan mengenai Hereditas.

Pengertian Hereditas dan riwayatnya dalam Islam
Hereditas umumnya diartikan sebagai transmisi genetik dari orang tua pada keturunannya, meski kejadian sesungguhnya tidaklah sesederhana itu. Pada dasaranya, seorang anak tidak mewarisi tingkah laku yang dapat diperoleh dari hasil belajar seperti bakat sebagai musisi atau kecenderungan melakukan kejahatan, melainkan yang diwarisi anak dari kedua orang tuanya yaitu genotip mereka.[1]
Faktor hereditas merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi perkembangan manusia. Berdasarkan  penelitian, faktor hereditas mempengaruhi kemampuan intelektual dan kepribadian seseorang. Islam dari 14 abad yang lalu bahkan telah menyinggung mengenai faktor hereditas dalam perkembangan manusia. Hal tersebut dapat diketahui dari pernyataan Nabi Muhammad Saw. Berikut merupakan beberapa Hadits yang menyinggung masalah pentingnya dalam memilih pasangan
“Menikahlah kalian dengan sumber (penghentian) yang baik. Karena sesungguhnya hal itu akan menurun kepada anak-anaknya.” (HR Muslim)
Selain itu, Nabi Muhammad Saw. Juga Bersabda:
Pilihlah untuk benih (Nutfah) mu. Menikahlah dengan perempuan yang sesuai, dan nikahkan perempuan dengan laki-laki yang sesuai. (HR Ibn Majah)
“Wanita dinikahi karena 4 perkara, karena hartanya, nasabnya, cantiknya dan agamanya. Maka pilihlah yang mempunyai agama niscaya kamu akan beruntung.”

Dari Hadits- hadits tersebut dapat diketahui suatu kesamaan mengenai betapa pentingnya dalam memilih pasangan dari karakter dan nasabnya, karena karakter yang dimilikinya akan diturunkan kepada keturunannya nanti

Dalam sebuah hadis riwayat Abi Hurairah dijelaskan bahwa seorang laki-laki dari Bani Fazarah datang menghadap Nabi salallahu alaihi wa salam dan berkata: “Sesungguhnya istri saya melahirkan anak laki-laki yang (berkulit) hitam.”
Rasulullah bertanya: Apakah kamu mempunyai Unta?
Ia menjawab:”ya.”
Beliau bertanya lagi:” Lalu apa warnanya?”
Ia menjawab: “Merah”
Beliau bertanya lagi: apakah ada warna abu-abunya?
Ia menjawab,”Ada warna abu-abu pada unta merah itu.”
Beliau bertanya lagi: dari mana datangnya itu padanya?
Ia menjawab: “Barangkali ia dipengaruhi gen (moyangnya)”
Beliau berkata: Ini juga barangkali karena dipengaruhi oleh gen (moyang kamu).
Hadis dialog antara Rasulullah Saw dan sahabatnya tersebut menggambarkan dengan jelas bahwa pengaruh keturunan warna yang terdapat pada kulit badan merupakan pengaruh dari genetik. Hal ini berasal dari keturunan nenek moyangnya jika saja sifat tersebut tidak nampak dari kedua orang tuanya, maka bisa saja sifat itu akan tersimpan pada satu individu dan kemudian akan muncul pada generasi selanjutnya[2]

Dalam biologi, ilmu genetika membahas mengenai gen, pewarisan sifat, dan keanekaragaman organisme hidup. Genetika dapat diaplikasikan ke berbagai studi tentang kehidupan seperti bacteria, plantae, animalia, dan manusia. Sejak dulu, telah ada berbagai observasi untuk mengembangkan varietas dari suatu tumbuhan dan hewan. Ilmu genetika modern dimulai oleh Gregor Mendel pada pertengahan abad ke-19. Genetika berusaha menjelaskan material pembawa informasi untuk diwariskan (bahan genetik), bagaimana informasi itu diekspresikan (ekspresi genetik), dan bagaimana informasi itu dipindahkan dari satu individu ke individu lain (pewarisan genetik).[3]

Setiap mahluk hidup tersusun dari sel yang merupakan unit dasar, dan setiap sel memiliki inti sel yang biasa disebut nukleus, nukleus ini di dalamnya terdapat  23 pasang/46 kromosom , dan di dalam kromosom terdapat ratusan hingga ribuan gen. 46 kromosom pada manusia berasal dari ayah dan ibu yang masing-masing menyumbangkan 23 kromosom/ kode genetiknya. Gen orang tua diwarisakan kepada anak-anaknya melalui proses pembuahan. Al-qur’an sendiri telah mengabadikan proses pembuahan ini dalam ayat-ayatnya. Tidak sedikit ayat Al-qur’an yang meyebut istilah tetesan (nutfah). Kata Nuftah sebelumnya seringkali ditafsirkan sebagai sperma. Tetapi sebenarnya barangkali akan lebih tepat apabila ditafsirkan sebagai zygot yang dibuahi dalam rahim. Hal ini berlandaskan pada QS. Al-insan ayat 1-2 yang artinya:[4]
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang Dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur(amsyajj) yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan Dia mendengar dan melihat. (QS. Al-insan: 1-2)


Penurunan karakter morfologi

Herditas juga disinggung dalam Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13 yang sebagai berikut:
يا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَ أُنْثى‏ وَ جَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَ قَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَليمٌ خَبيرٌ (13
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal“. (Q.S. al-Ĥujurāt/ 49: 13).
Dari ayat tersebut setidaknya terdapat beberapa poin yang bisa diketahui, antara lain yaitu fitrah keberagaman manusia, persatuan, tujuan terciptanya keberagaman, dan yang paling penting yaitu hereditas/pewarisan sifat itu sendiri. Terdapat banyak golongan kelompok manusia seperti halnya bangsa dan suku, tak hanya itu setiap suku dan bangsa juga memiliki ciri khas dan karakteristik masing-masing, baik dari lingkungan maupun dari genetiknya. Contoh saja orang suku papua yang umumnya memiliki cirri morfologi hidung mancung, kulit gelap, dan rambut keriting. Orang bangsa cina yang umumnya memiliki ciri morfologi kulit cerah dan mata yang sipit. Hal tersebut merupakan contoh nyata dari adanya hereditas atau pewarisan sifat dari kedua orang tua atau dengan kalimat lain, seseorang akan mewariskan sifat-sifat genetiknya kepada keturunan-keturunannya nanti.   
Implementasi yang dapat dilakukan
Untuk mendapatkan keturunan yang baik, tangguh, intelektual, dan berakhlaqul karimah, harus diperhatikan betul dalam memilih pasangan. Berikut merupakan hal-hal yang dapat diimplementasikan berdasarkan dalil Al-Qur’an Hadits:[5]

a.         Berdoa. Sebab hanya dengan doa sesuatu yang sifatnya tidak terlihat dimasa depan dapat menjadi jelas melalui petunjuk Allah Swt. Hendaknya berharap mendapatkan pasangan yang baik menurut Allah, berakhlak serta memiliki ketakwaan yang tinggi. Firman Allah QS. Al-furqan:74
“dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”

b.      Menikah dengan orang yang jauh. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi: “Janganlah kalian menikah dengan kerabat dekat, karena anak yang lahir (darii pernikahan tersebut) akan lemah fisiknya. Maksudnya akan kurus dan lemah tubuhnya, serta memiliki tingkat pemahaman dan kecerdasan yang rendah. (DR. Abdullah Nashih Ulwan, Tarbiyatul Aulad Fil Islam, Hlm. 44). Ilmuwan genetik mengingatkan agar menghindari pernikahan dengan kerabat, apalagi dengan kerabat dekat sekali. Namun menurut penulis yang dimaksud kerabat dekat sekali adalah saudara dekat, atau terbilang memiliki hubungan nasab yang dekat sekali. Sebab dalam hukum genetik akan rentan penyimpangan kromosom.

c.       Istikharah, sebab dengan istikharah harapannya adalah agar Allah memberikan pentunjuk untuk menghadapi persoalan yang genting. Persoalan jodoh adalah persoalan genting, sebab kan menentukan bagaimana generasi kedepan nantinya. Melalui orang tuanyalah mereka akan ditentukan baik buruknya secara genetis, baik rohani maupun jasmani.

d.      Carilah suami atau istri yang terbaik. Meskipun faktor-faktor yang mempengaruhi adalah harta, kecantikan, kedudukan serta agama, namun Allah dan Rosulnya memberikan kode untuk mencari yang baik agamanya. Allah berfirman dalam QS. Al-baqarah: 221 sebagai berikut:
“dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun Dia menarik hatimu” (QS. Al-baqarah: 221)

PENUTUP

Dari ayat-ayat yang telah diebut dan dibahas, dapat diketahui kesimpulan bahwa suatu pasangan, masing-masingnya akan mewariskan Sifat/kromosomnya kepada keturunannya. Sifat dan Karakter dari anak yang akan lahir dianggap sangat penting untuk memunculkan generasi mendatang yang berkualitas. Maka dari itu pemilihan pasangan sangatlah perlu diperhatikan, karna dari 46 kromosom pembawa sifat&karakter pada anak yang akan dilahirkan, setengahnya adalah dari pasangan. Selain itu juga terdapat faktor-faktor lain seperti kebiasaan dan situasi lingkungan.


Datar Pustaka:

Meilinda. 2017. Teori Hereditas Mendel: Evolusi atau Revolusi (Kajian Filsaat Sains).  Jurnal Pembelajaran Biologi, Volume 4, Nomor 1
Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Maktabah Syamilah, Ibn Katsir, 10: 126
Ath-Thahir, Fathi Muhammad. 2005. Begini Seharusya Suami Istri Saling Mencintai, Bandung: Irsyad Baitus Salam
Hasan, Aliah B. Purwakania. 2006. Psikologi Perkembangan Islami: Menyingkap rentang kehidupan manusia dari prakelahiran hingga pascakematian. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Thayyib, Haji Lalu Ibrahim. 2010. Keajaiban Sains dan Islam. Yogyakarta: Pinus Book Publisher



[1] Meilinda. 2017. Teori Hereditas Mendel: Evolusi atau Revolusi (Kajian Filsaat Sains).  Jurnal Pembelajaran Biologi, Volume 4, Nomor
[2] Hasan, Aliah B. Purwakania. 2006. Psikologi Perkembangan Islami: Menyingkap rentang kehidupan manusia dari prakelahiran hingga pascakematian. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

[3] Thayyib, Haji Lalu Ibrahim. 2010. Keajaiban Sains dan Islam. Yogyakarta: Pinus Book Publisher

[4] Hasan, Aliah B. Purwakania. 2006. Psikologi Perkembangan Islami: Menyingkap rentang kehidupan manusia dari prakelahiran hingga pascakematian. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
[5] Ath-Thahir, Fathi Muhammad. 2005. Begini Seharusya Suami Istri Saling Mencintai, Bandung: Irsyad Baitus Salam
Read more